Malam itu pukul 02 pagi.
Perutku tiba-tiba terasa tidak enak, seperti ada sesuatu yang ingin dikeluarkan, maka pergilah aku ke salah satu bilik berukuran 2 x 2 meter yang terletak di pojok belakang sebelah kanan rumahku. Dan kulepaskan semua beban dalam perut itu disana,diatas sebuah jamban jongkok berwarna merah di sudut ruangan.
Sambil menghabiskan lintingan tembakau ber-merk Gudang Garam, aku terdiam disana, mencoba memikirkan sesuatu disudut bilik kamar mandi yang hening malam itu. Apa sajalah, sebisa mungkin aku pikirkan, daripada cuma diam sambil melamu, nanti malah kesurupan bisa bahaya.
Lalu, tiba-tiba saja aku dikagetkan oleh suara-suara aneh, aku coba diam, dan suara itu terdengar lagi makin keras ditelingaku, kupandangi sekitar, sambil menggerayangi dalam batin darimana nian asal suara-suara itu, yang telah memecah keheningan disini. Ternyata, disana....diatas pintu kamar mandi sumbernya. Terlihat dua ekor binatang melata sedang bergelut-bertarung. Hewan melata-berekor, berwarna kuning-cream yang besarnya kira-kira sebesar Ibu jari kita saling beradu dan berdesis dalam bahasa mereka. Dan, entah apa yang sedang mereka ributkan. Apakah soal betina, harta gono-gini, atau perebutan wilayah kekuasaan.
Sekian detik aku amati, mereka berkelahi dengan gagahnya, saling mencakar, gigit dan gardik satu sama lain. Cicak yang satu merasa kewalahan menghadapi lawan tandingnya, lalu mindur dan bersembunyi di celah pintu. Merasa tidak terima, cicak satunya lagi mengejar dan berusaha mencari dimana gerangan perginya sang lawan. Dia mencari dan mengendus, berulang kali terlihat menjulurkan lidahnya untuk mencari jejak bau lawannya.
Cicak yang pertama tetap bersembunyi dan terlihat diam tidak bergerak untuk mengelabuhi indera lawannya itu. Cicak yang digdaya, tetap berusaha mencari sambil mengendus.
Ada yang menarik disini,Sebenarnya, cicak yang pertama bisa saja langsung kabur dari tempat, mengapa Ia harus menunggu segala... ada apakah gerangan......saya tetap mengawasi pertarungan seru itu dari atas jamban, apa yang ada dalam benak si cicak pertama.....
Cicak kedua yang digdaya itu akhirnya jenuh juga mencari, Pikirnya, mungkin sang musuh yangh kalah itu telah pergi... Dia pun berbalik arah, lalu berlalu.
Setelah dirasa cukup aman, dan musuhnya tidak lagi menawasi. Cicak yang semula bersembunyi itu lalu kabur secepat kedipan lewat celah pintu kamar mandi. Meninggalkan aku sendiri dengan segenap pertanyaan tentang peristiwa yang barusan saja aku saksikan.....
Kutinggalkan kamar mandi, dan kembali ke kamar....tapi masih juga belum bisa tidur. Mencoba meresapi pesan apakah yang ingin disampaikan oleh dua ekor cecak itu padaku??
Coba aku urut ulang kejadiannya, dan coba meresapi apakah nilai-nilainya. Hingga prosses pemikiranku membuat aku tersadar, dan mengakui kalau cicak memang lebih pintar daripada kita bangsa manusia ini. Cicak yang kalah memberikan aku sebuah pelajaran bahwa, tidak selamanya kita harus selalu ngotot jadi pemenang, ada saatnya kita jadi yang kalah.....demi sebuah alasan, dan keselamatan.
Kita pun tak boleh juga seenaknya lari dari masalah..... masalah tidak akan terselesaikan begitu saja dengan lari. Akan lebih bijak apabila kita bisa melihat situasi, bgaimana bisa lari jika perlu tapi sekaligus memastikan jagan sampai masalah ikut membuntuti kita di hari berikutnya demi ketenangan.
Hehehehee......
akhirnya kututp malam itu dengan sebuah senyuman, karena sebuah pelajaran berhargha telah berhasil saya petik dari seekor cicak.
Tentang sebuah Ilmu kehidupan dan strategi.....yang lebih cerdik dari Ilmu seekor kancil dan Strategi perang apapun milik manusia.
Terima kasih Cicak.....
and











